Awal juni lalu, komunitas blogger bengawan.org mengadakan sebuah perhelatan dengan label SOLO (sharing online lan offline), dimana kegiatan ini dihadiri oleh berbagai komunitas blogger di jawa luar jawa, mengenai kegiatan ini (SOLO) bisa diliat reviewnya di berbagai blog teman-teman yang sempat hadir
Yang jadi cerita kali ini bukan mengenai SOLO tapi sedikit tentang kuliner yang sempat dicicipi dalam perjalanan balik dari solo menuju Jakarta,
Sewaktu perjalan balik solo – Jakarta kami (rara, nuri, nhie, saya) mampir di jogja ketemu dengan mas lantip, eh tau-taunya diajak makan di sebuah tempat makan yang unik banget (setidaknya bagi saya), gimana tidak, menu makanannya sih biasa, tapi… yang bikin unik itu bahan dasar yg dipakai, JAMUR.. yah, jamur, bahan dasarnya menggunakan jamur sebagai bahan pengganti daging (tongseng,sate,nugget), juga menggantikan nangka (gudeg), agak unik kan?, tapi ini tidak mengurangi rasaya, bagi saya rasa-rasanya jamur yg diolah menjadi gudeg lebih nikmat dibandingkan jika menggunakan bahan dasar nangka, mungkin pengaruh asal usul lidah saya yg tak sedaerah dengan asal usul gudeg
Singkat cerita setelah puas dengan makanan diwarung tersebut yang semuanya dari jamur, giliran pembibitanya yg dikunjungi, ternyata semua bahan pokok (jamur) itu di produksi sendiri, mulai dari bibit sampai siap petik, disana ada beberapa jenis jamur yang dibudidayakan, mulai dari jamur merang, kancing, kuping, tiram, shitake, dll.
Sedang asyik melihat-lihat, eh sang pemiliknya datang, trus bercerita panjang lebar mengenai awal mula “bergaul” dengan jamur. Katanya dia mulai mengenal jamur sejak tahun 60an itu dikarenakan beliau kerja di perusahaan yg memang membudidayakan dan mengekspor jamur, sampai pada akhirnya beliau sendiri yg melakukan budi daya jamur tersebut, yang konon kabarnya untuk beberapa jenis jamur bibitnya didatangkan khusus dari luar negeri, menurut sang pemilik sekarang sudah 20 jenis jamur yang sedang dikembang biakkan,
Trus kok bisa jadi warung makan gitu? Nah ini ceritanya lain, menurut si pemilik yang akhirnya menyebutkan namanya setelah kami tanya (maklum lupa nanya, nama beliau Ratidjo H.S) awal mula jamur djadikan bahan dasar itu tak lain karena motif ekonomi, katanya “kebetulan ibu (istri beliau) dirumah suka masak, dan berhubung lagi “kere” jadinya gak bisa beli daging jadilah jamur itu menjadi bahan olahan yang akhirnya coba dikenalkan ke tetangga-tetangga, hingga akhirnya mulai buat gerobak kecil yg terus meningkat seiring dengan waktu, tapi perjalan pak Ratidjo tidaklah mulus, jatuh bangun beliau memperkenalkan jamur, hingga bisa diterima menjadi bahan makanan oleh orang2, tapi buah perjuangan pak ratidjo yg pantang menyerah itu adalah sebuah warung makan yg sangat rame dan cukup luas sekaligus tempat pembudidayaan berbagai jenis jamur, kini pekerjanya sudah mencapai puluhan orang.
Pak Ratidjo juga tak sungkan-sungkan membagi pengetahuan yg dimilikinya kepada orang banyak, kata beliau “ rejeki itu sudah ada yg atur, jadi sy tidak takut kalo orang banyak yg usaha jamur”
Sehari-harinya pak Ratidjo dapat di temui di warungnya yg diberi nama jeJamuran yg beralamat di Niron, Pandowoharjo, sleman, Jogjakarta, beliau bisa dihubungi di volva_indonesia@yahoo.com
Jadi sekarang mau makan jamur?? Atau kena jamur
Mending makan jamur di jejamuran milik pak ratidjo.
nah yg pengen main ke tempat pak ratidjo ini petanya










September 2nd, 2010 at 5:07 pm
beh! wisata kuliner ki
pengen coba jamurnya
T_T