kemana perginya sabtu ceria itu?

hari ini sabtu, masih seperti sabtu di beberapa pekan di beberapa bulan terakhir.

bagi sebagian penduduk yang bermukim di ibukota ini, hari sabtu dan minggu menjadi hari yang di tunggu, alasannya cukup sederhana, karena di dua hari tersebut adalah waktu yang tepat bagi mereka untuk bertemu dan berkumpul bersama rekan-rekan, keluarga atau kerabat lainnya

saya juga adalah salah satu dari mereka, namun beberapa waktu terakhir ini saya secara perlahan keluar dari kelompok mereka yang merindukan hari sabtu dan minggu, hal ini bukan lantaran tidak ingin atau tidak suka lagi berkumpul dan bertemu dengan orang-orang dekat, tapi karena beberapa waktu terakhir ini ada hal yang tingkat prioritasnya lebih harus didahulukan. luar biasa sekali hal ini !

jadi ceritanya beberapa bulan kemarin saya cukup nekat ikutan membuka satu kios komputer di salah satu grosir teramai di timur jakarta, nekatnya itu karena check list untuk membuka satu kios itu belum tercentang semua , malahan baru sekitar 20% saja yang saya bisa centang, sisanya nekat saja, hehehe. Alhasil buah dari kenekatan saya ini membuat saya kehilangan sebahagian waktu luang, yang biasanya saya luangkan untuk kesana kemari berhaha hehe dengan orang-orang atau juga mengunjungi event-event yang berseliweran di ibukota ini. memang seharusnya hal ini tidak menjadi alasan kalau saja segala perangkat “safety” sudah dikenakan dengan baik, seperti ada orang yang bisa membantu saya menjaga toko disaat saya lagi agak “malas” ke toko, ada juga orang yang bisa membantu saya berwarawiri mengantarkan pesanan pelanggan disaat saya lagi kurang fit (alasan saja) , nah berhubung perangkat “safety” ini belum diadakan karena pengadaan perangkat “safety” ini berhubungan dengan waktu (kata pedagang waktu adalah uang) sehingga hal ini belum terealisasi juga sampe hari ini.

nah sekarang gimana? itu dia pertanyaan yang akhir-akhir ini muncul di kepala, berhubung saya bukan tipe orang yang senang dengan kerjaan yang monoton, melainkan model orang dengan tipe pemadam kebakaran (kan klo pemadam cuman matiin api, masalah bangun kembali itu urusan orang lain) atau tipe trouble shouter saja, dengan kata lain tidak cukup nyaman bekerja dengan jenis pekerjaan dengan pola yang sama untuk waktu lama (lama menurut saya, padahal memang malas kerja hahaha), maka tidak ada pilihan yang cukup bijak adalah mencoba mencari jalan tengah dari permasalahan ini, caranya siapkan waktu (waktu versi pedagang, caranya??? ada ji itu jalannya, niat saja dulu, baru nekat, hahaha), terus cari kandidat yang bisa dipercaya untuk meringankan tugas harian di toko, selesai mi toh?? harusnya selesai mi klo semua pra syarat pengadaan “safety” itu bisa disiapkan dalam tempo soon as possible. kecuali memang tidak mau (bilang saja klo memang malas) dan ingin terus-terusan terjebak dengan hal yang seharusnya bukan menjadi jebakan baru.

oh iy, maaf buat teman-teman yang agak susah kutemui saat ada kesempatan kopdar, smoga kali berikutnya bisa mi ktemuan 😀

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *