Jadi Orang Besar dengan Risiko yang Besar

Ibnu Abbas radiyallahu’anhu diminta waktunya sejenak oleh seseorang untuk suatu urusan kecil. Datanglah kepadaku dengan urusan yang besar, urusan kecil berikan buat yang lain.

Mengapa nabi Ibrahim selalu meminta lisan shidq di kalangan generasi berikut? Mengapa nabi Ismail dan Abu Bakar digelari si jujur? Apa jadinya bila Ibrahim gagal meninggalkan Ummu Ismail dan Ismail alaihissalam di lembah tak bertanaman di sisi rumah-Nya yang dihormati (QS.Ibrahim:37)?

Apa jadinya bila Ismail alaihissalam yang beranjak remaja memanfaatkan kemanusiaan bapaknya agar tak terjadi pengurbanan besar itu (QS.Shaad:102)?

Jelas mereka akan menjadi orang yang tak pernah punya peran di atas panggung sejarah,karena sejarah tak pernah mau mengabadikan orang-orang biasa yang perjalanannya datat tanpa tantangan.

kadang orang merasa ada dinamika dalam sejarah dan ia menontonnya tanpa berpikir ia sendiri mampu menjadi aktor sejarah. inilah  thufailiyat (sifat kekanak-kanakan) yang betapapun usia fisiknya telah jauh diambang tua, namun fikiran pemiliknya tertinggal di masa lalu yang lugu,mentah dan khas kanak-kanak

Belakangan datang generasi yang tak merasakan lelahnya berkurban di zaman awal Islam, saat muhajirin dan Anshar bahu membahu membangun masyarakat baru madinah dan tidak menjadikan Islam sebai wacana teoritik belaka. Mereka tak merasakan makan daun perdu padang pasir yang membuat luka kerongkongan dan remah mereka menjadi sama dengan kotoran kambing dan unta. Mereka tak merasakan blokade tiga tahun di Syi’b Abi Thalib, pergi meninggalkan tanah air atau disita harta dan dibunuhi keluarga.

Suatu hari datanglah Mush’ab bin Umair ke majelis Rasulullah SAW dengan pakaian bertambal. Beliau menangis mengenang masa-masa Mush’ab dimanjakan orang tuanya dalam jahiliyah. Beliau ingatkan para sahabat : “Bagaimana kamu, bila kelak pagi kamu berpakaian kebesaran dan petang hari mengganti pakaian kebesaran lainnya, piring-piring makanan datang silih berganti dan kamu sudah mulai memasang penutup dinding seperti ka’bah dibalut sitar (kelambu)” para sahabat bertanya : “bukankah saat itu kami jadi lebih baik, karena dapat sepenuh waktu beribadah dan tercukupi kebutuhan pokok?”

Rasulullah SAW menjawab :”TIDAK, kamu hari ini lebih baik daripada hari itu.”

oleh (alm) ust.rahmat abdullah (untukmu kader dakwah, hal.47-49)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *