mahluk yg tak berdaya

kejadiannya bermula ketika dering handphone mengejutkanku subuh tadi, membuyarkan seluruh bayang di alam mimpi,(Alhamdulillahilladzi ba’da ma amatana wa ilaihinnusur“yaa….ketinggalan subuh jamaah di mesjid (keluhku dalam hati)”,apa boleh buat shalat subuh terpaksa sendiri lagi..

kuraih handphone dari atas lemari, disana ada 1 misscall dari nomor yang tak dikenal, kuputuskan untuk menelepon balik ke nomor tersebut, ternyata seorang teman dari makassar , cuma mau memberi kabar kalau dia sudah di jakarta lagi setelah mengikuti pelatihan di cipanas. dan juga menginformasikan kalau pak tri (seorang yang memiliki semangat juang yang sangat tinggi,selalu menjadi sumber semangat bagi setiap yang megenalnya, “ya Allah… panjangkanlah umurnya dan tempatkan beliau kelak bersama para syuhada yang telah mendahului kami…”) sudah tiba di jakarta dan akan segera berangkat ke jabar pagi ini untuk sebuah kepentingan, jadi tidak banyak waktu yang tersisa untuk bertemu dengannya.

segera saja kuputuskan untuk menemuinya sebelum kekantor, kuraih ransel, periksa uang di dompet, Astagfirullah… ternyata “si dompet” tak ada di tas, cari ke sana sini tidak ketemu juga,ku coba mengingat kembali kapan kali terakhir tersadar akan keberadaanya “argh..tidak jelas..” lintasan-lintasan kecemasan mulai tergambar dalam benakku mengingat di dalam dompet itu terselip semua “kartu-kartu berhargaku” ktp,kartu atm,sim, dll. coba untuk menenangkan diri dan berusaha untuk tidak cemas, sambil berusaha melakukan “tracert” setiap urutan kejadian mulai pada kali terakhir kesadaran akan keberadaan si dompet,

kubiarkan semuanya mengalir begitu saja, kutemui pak tri, setelah itu berangkat ke kantor, seperti biasa bus kota kopaja P20 menjadi pilihan,tidak ada yang istimewa dalam perjalanan kali ini, hanya saja tidak tahu kenapa, keberadaan seorang pengamen cilik mengusik pikiranku (berfikir hal yang tidak perlu, “bagi duit tidak yaa?”,biasanya kalo mau memberi yaa beri saja dak usah pake mikir),bagaimana tidak, total uang yang saya miliki sekarang hanya cukup untuk sampai kekantor dan buat beli sarapan pagi,”ya Allah… kuatkan hatiku….” kejadian serupa terjadi lagi, ketika turun dari bus,disamping terminal lebak bulus arah ke kantor, ada seorang nenek tua yang duduk di pinggir jalan sembari menengadahkan tangannya,berharap sedekah dari orang-orang yang lewat “ya Allah… kuatkan hatiku…, ampuni segala dosaku…, dan letakkan dunia di tanganku jangan di hatiku.”

setibanya di kantor, langsung saja bertanya pada seorang teman yang nginap disana, kalau-kalau saja si dompet tertinggal, “tidak ada” katanya,teringat… kalau kemarin itu pulangnya numpang mobil si boss,”coba telepon saja si boss,atau kalau segan telepon saja pak udin (pak udin = sopir merangkap ob dan sekaligus orangtua kami di kantor)”, “ntar saya periksa dulu” sahut pak udin di seberang sana…
samabil menunggu kabar dari pak udin, segala sesuatunya mulai dipersiapkan,rencana mulai disusun untuk menghadai segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi…

handphone kembali berdering, “ada… atas nama muhammad nawir gani” kata pak udin,
Alhamdulillahirabbil alamin…

kejadian hari ini seakan menjadi shock therapy bagi diri saya pribadi,mengingatkan kembali akan kesalahan-kesalahan dan khilaf yang pernah dilakukan,sebagai isyarat untuk tetap siap siaga,mengingatkan kalau manusia itu mahluk yang tidak berdaya atas segala kehendak-Nya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *